Kamis, 25 SEPTEMBER 2025 • 14:23 WIB

Pemkot Bandung Peringati Hari Tani Nasional, Luncurkan Rencana Induk Ketahanan Pangan 2025–2030

Author

Pemkot Bandung Peringati Hari Tani Nasional, Luncurkan Rencana Induk Ketahanan Pangan 2025–2030

JAWA BARAT - Pemerintah Kota (Pemkot) Bandung memperingati Hari Tani Nasional 2025 dengan serangkaian kegiatan di Pendopo Kota Bandung, Rabu (24/9/2025). Peringatan ini menjadi momen peluncuran kebijakan baru, penguatan gerakan masyarakat, sekaligus pemberian apresiasi kepada pelaku ketahanan pangan perkotaan.

Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan, dalam sambutannya menekankan pentingnya menjaga ketahanan pangan meski Bandung bukan daerah agraris. Ia menegaskan keberadaan ruang terbuka hijau (RTH) dan sawah yang masih ada perlu dilestarikan.

“Walaupun Bandung kota metropolitan, kita tetap memiliki kewajiban menjaga 600 hektare sawah dan 500 hektare RTH. Jika tidak, generasi mendatang akan kesulitan memperoleh jaminan pangan,” ujar Farhan.

Pada kesempatan tersebut, Pemkot resmi meluncurkan Rencana Induk Ketahanan Pangan Kota Bandung 2025–2030. Dokumen strategis ini disusun sebagai pedoman jangka panjang dalam memastikan ketersediaan, distribusi, dan pemanfaatan pangan di wilayah perkotaan.

Baca juga: Sekolah di Bandung Berwajah Baru, Hasil Kerja Sama Pemkot dan Summarecon

Farhan menegaskan, urusan pangan bukan semata tanggung jawab petani, melainkan seluruh lapisan masyarakat. “Bandung harus kuat, tidak hanya dari sisi infrastruktur, tetapi juga dalam ketahanan pangan. Hari Tani Nasional ini mari kita jadikan momentum kolaborasi menjaga masa depan,” ucapnya.

Dalam acara tersebut, Pemkot juga memberikan penghargaan kepada para penggerak Buruan SAE—program ketahanan pangan berbasis masyarakat yang kini hadir di 375 RW. Menurut Farhan, meski baru mencakup sekitar 20 persen dari total 1.597 RW, dampaknya sudah terasa.

Pemkot Bandung Peringati Hari Tani Nasional, Luncurkan Rencana Induk Ketahanan Pangan 2025–2030

“Itu adalah 20 persen terbaik. Dengan kreativitas dan gotong royong, Buruan SAE terbukti dapat meringankan biaya pangan keluarga,” katanya.

Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kota Bandung, Gin Gin Ginanjar, mengungkapkan bahwa sekitar 96 persen kebutuhan pangan Bandung masih dipasok dari luar daerah. “Karena itu, kita perlu desain integrasi agar suplai pangan tetap aman, berkelanjutan, dan efisien,” jelasnya.

Selain rencana induk, Pemkot juga memperkenalkan aplikasi pengelolaan food waste hasil kolaborasi dengan akademisi dan komunitas. Aplikasi ini memungkinkan sisa makanan dari rumah tangga, restoran, hingga hotel dialihkan kepada masyarakat yang membutuhkan atau diolah kembali menjadi pupuk organik.

“Ini langkah inovatif agar pangan tidak terbuang sia-sia,” kata Gin Gin.

Baca juga: Ratusan Pelajar di Bandung Barat Alami Keracunan Usai Konsumsi Makan Bergizi Gratis

Suasana peringatan semakin semarak dengan makan bersama nasi liwet grande di halaman pendopo. Ratusan peserta dari berbagai kalangan duduk berjejer menikmati hidangan, menghadirkan nuansa kebersamaan dan semangat gotong royong.

Gin Gin menambahkan, bulan depan Kota Bandung akan menerima penghargaan internasional di Milan, Italia, atas praktik ekonomi sirkular melalui program Buruan SAE dan school meal. “Ini bentuk pengakuan dunia terhadap komitmen Bandung dalam menjaga ketahanan pangan sekaligus lingkungan secara berkelanjutan,” ujarnya.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Pemkot Bandung

Author

Yudo Utomo

ZCreators
TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU