Dedi Mulyadi: Kirab Mahkota Binokasih Bukan Sekadar Seremoni Budaya (Antara Foto)
JAWA BARAT - Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi menilai Kirab Budaya Mahkota Binokasih Napak Tilas Pajajaran di Kota Cirebon sebagai upaya untuk menghubungkan warisan sejarah dengan pembangunan masa depan.
Hal tersebut disampaikan Dedi saat memberikan sambutan di Alun-alun Sangkala Buana Keraton Kasepuhan Cirebon, Minggu malam. Menurutnya, kegiatan budaya tidak semata-mata bertujuan mengenang masa lampau, melainkan menjadi jembatan antara nilai sejarah dan arah pembangunan ke depan.
Ia menegaskan masyarakat tidak dapat berbicara mengenai masa depan tanpa memahami sejarah serta filosofi budaya yang diwariskan para leluhur. Sejarah, kata dia, memiliki peran penting dalam membentuk karakter bangsa sekaligus menghadapi perkembangan zaman.
Karena itu, Dedi menilai kirab budaya tersebut bukan sekadar kegiatan seremonial ataupun historis, melainkan bagian dari upaya membangun peradaban masa depan.
Baca juga: Kirab Budaya ke-6 di Bogor Hadirkan Mahkota Bersejarah Kerajaan Pajajaran
Ia juga menyoroti kekayaan budaya Jawa Barat yang masih terjaga melalui keberadaan keraton, tradisi masyarakat, hingga berbagai peninggalan sejarah Pajajaran. Menurutnya, Mahkota Binokasih beserta situs-situs budaya lainnya menjadi bukti bahwa sejarah Pajajaran tetap hidup dan tidak hilang oleh waktu.
Dalam kesempatan tersebut, Dedi menyebut Cirebon sebagai daerah yang mampu memadukan unsur agama, budaya, dan sejarah secara harmonis. Kehidupan masyarakat di wilayah itu dinilai mencerminkan keterbukaan budaya yang telah diwariskan sejak masa para wali dan keraton.
Berbagai tradisi dan peninggalan budaya di Cirebon, lanjutnya, masih bertahan hingga kini, di antaranya keberadaan Masjid Agung Sang Cipta Rasa dan tradisi Adzan Pitu.
“Cirebon sesungguhnya adalah mini pluralisme Indonesia. Kalau dalam bahasanya para pakar, Cirebon mengajarkan tentang Islam inklusif,” ujar Dedi.
Baca juga: 27 Kabupaten/Kota Ramaikan Kirab Budaya Milangkala Jabar di Garut
Ke depan, Pemerintah Provinsi Jawa Barat disebut telah menyiapkan rencana penataan kawasan budaya di sekitar keraton Cirebon agar lebih tertata, bersih, dan memiliki daya tarik wisata sejarah yang lebih kuat.
Menurut Dedi, penataan kawasan keraton yang terintegrasi dengan lingkungan sekitar, termasuk sungai dan akses menuju laut, dapat menjadi fondasi dalam membangun peradaban dan memperkuat identitas budaya daerah.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Antara