Kamis, 21 AGUSTUS 2025 • 16:46 WIB

Wamen Sosial: Kematian Anak 4 Tahun di Sukabumi Jadi Alarm Pentingnya DTSEN

Author

Wamen Sosial: Kematian Anak 4 Tahun di Sukabumi Jadi Alarm Pentingnya DTSEN (Antara Foto)

JAWA BARAT - Wakil Menteri Sosial, Agus Jabo, menilai kasus meninggalnya RY (4), seorang anak di Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, akibat infeksi cacing, menjadi pengingat serius tentang pentingnya keberadaan Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN).

Agus menuturkan, keluarga RY sebelumnya tidak tercatat dalam DTSEN, sehingga tidak terjangkau bantuan sosial maupun program intervensi pemerintah. Ia menekankan perlunya peran aktif pemerintah daerah, khususnya dinas sosial, dalam memetakan kondisi masyarakat secara lebih akurat.

“Kalau keluarga rentan sudah masuk data, penanganannya bisa lebih cepat dan berkelanjutan. Pendamping PKH di daerah juga ditugaskan memastikan keluarga dengan tingkat ekonomi terendah (desil 1) tercatat dalam DTSEN,” kata Agus usai menghadiri penutupan Pembekalan Guru dan Kepala Sekolah Rakyat di Jakarta, Kamis.

Saat ini Kementerian Sosial telah menangani keluarga korban. Kakak RY yang berusia tujuh tahun sedang menjalani asesmen untuk dipindahkan ke Sentra Phalamatra Kemensos di Sukabumi. Sementara itu, kedua orang tuanya yang juga mengalami masalah kesehatan akan direhabilitasi.

“Semua akan kita urus,” tambah Agus.

Diketahui, RY merupakan anak dari keluarga tidak mampu di Kampung Padangenyang, Sukabumi. Sang ayah dalam kondisi sakit, sementara ibunya mengalami gangguan jiwa. Mereka tinggal di rumah panggung sederhana yang lantainya dipenuhi kotoran ayam, yang diduga menjadi sumber infeksi.

Baca juga: Kasus Balita Meninggal karena Infeksi Cacing Jadi Sorotan, Kemensos Pastikan Pendampingan

Sebelum meninggal pada 22 Juli 2025, RY sempat dirawat di rumah sakit setelah ditemukan dalam kondisi kritis oleh relawan sosial. Selama perawatan, dokter mengeluarkan cacing hidup seberat hampir satu kilogram dari tubuhnya. Hasil pemeriksaan CT Scan juga menunjukkan infeksi cacing telah menyebar hingga ke otak.

Kasus ini memantik perhatian publik, termasuk Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi. Ia menyoroti kondisi lingkungan tempat tinggal keluarga yang tidak layak serta lemahnya fungsi posyandu, PKK, dan bidan desa dalam melakukan deteksi dini masalah kesehatan masyarakat. Pemerintah Provinsi Jawa Barat juga mengevakuasi keluarga RY untuk mendapatkan perawatan medis, lantaran turut terinfeksi TBC.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: ANTARA

Author

Yudo Utomo

ZCreators
TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU