JAWA BARAT - Pemerintah tengah menggulirkan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) sebagai langkah strategis yang tidak hanya berfokus pada peningkatan gizi masyarakat, tetapi juga berupaya menggerakkan ekonomi lokal melalui keterlibatan aktif warga sebagai mitra atau tenaga pelaksana di dapur MBG.
Anggota Komisi IX DPR RI, Zainul Munasichin, saat ditemui di Sukabumi, Jumat, menjelaskan bahwa Badan Gizi Nasional (BGN) mengajak masyarakat untuk ambil bagian dalam mempercepat realisasi program ini, salah satunya melalui pembentukan Satuan Pelaksana Program Gizi (SPPG).
“Program ini tidak hanya memberikan makanan bergizi bagi pelajar, ibu hamil, ibu menyusui, dan balita. Lebih dari itu, MBG diharapkan mampu menciptakan dampak ekonomi nyata di daerah,” ujar Zainul.
Dalam operasionalnya, satu unit dapur SPPG diproyeksikan dapat membuka lapangan kerja bagi sekitar 45 hingga 50 orang, belum termasuk aktivitas ekonomi tambahan dari pembelian bahan baku yang melibatkan warga sekitar.
Rantai pasok program ini pun diperkirakan turut melibatkan berbagai pihak, mulai dari petani, peternak, hingga nelayan, baik secara langsung maupun melalui lembaga seperti koperasi dan BUMDes. Dengan demikian, MBG diharapkan mampu membentuk ekosistem ekonomi lokal yang kuat dan berkesinambungan.
Baca juga: Program Makan Bergizi Gratis, Komitmen Nyata Bangun Generasi Sehat
Tenaga Ahli Direktorat Promosi dan Edukasi, Ande Citra Restiawan, menerangkan bahwa sasaran program MBG terbagi dalam dua kelompok utama, yaitu peserta didik dan kelompok non-peserta didik. “Bagi peserta didik, program menyasar anak-anak di berbagai jenjang, mulai dari PAUD, TK, SD, SMP, hingga SMA, termasuk PKBM, pesantren, dan sekolah adat. Sementara kelompok non-peserta didik meliputi ibu hamil, ibu menyusui, dan balita,” jelasnya.
Ande menambahkan, tiap dapur MBG ditargetkan dapat melayani 3.000 hingga 3.500 penerima manfaat. Penyaluran makanan bagi peserta didik akan dilakukan setiap hari sekolah, sedangkan untuk kelompok non-peserta didik dilaksanakan dua kali dalam sepekan, bekerja sama dengan Posyandu dan Puskesmas di wilayah masing-masing.
“Melalui program ini, kita ingin membentuk generasi yang sehat dan berkualitas dengan asupan gizi harian yang terjaga. Program ini juga membuka peluang kerja baru dan mengurangi beban pengeluaran keluarga, terutama bagi kalangan kurang mampu,” lanjut Ande.
Ia menekankan pentingnya penyebarluasan informasi program hingga ke tingkat keluarga agar budaya makan sehat tidak hanya dibangun di lingkungan pendidikan, namun juga menjadi kebiasaan di rumah.
Sejalan dengan itu, Tenaga Ahli Direktorat Promosi dan Edukasi lainnya, Adib Al Fikry, mengungkapkan bahwa program MBG memiliki tiga misi utama. Pertama, membangun kesadaran masyarakat dalam memilih makanan yang sehat dan bergizi. Kedua, meningkatkan literasi gizi di tingkat keluarga dan anak melalui edukasi yang konsisten, baik di rumah maupun di sekolah.
Baca juga: BGN Latih Pelaku Usaha Dukung Program Makan Bergizi Gratis: Upaya Menyongsong Generasi Emas 2045
“Misi ketiga adalah menjadikan gizi seimbang sebagai bagian dari gaya hidup harian masyarakat. Dengan begitu, konsumsi makanan bergizi bukan hanya tren sementara, tetapi menjadi kebiasaan berkelanjutan yang juga memberdayakan potensi pangan lokal,” terang Adib.
Lebih jauh, ia menegaskan bahwa keberhasilan MBG tidak hanya ditentukan oleh tersedianya makanan bergizi, namun sangat bergantung pada keterlibatan aktif seluruh pihak dalam membangun budaya makan sehat yang inklusif dan berkelanjutan.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: ANTARA