JAWA BARAT - Direktorat Pemberdayaan Peran Serta Masyarakat (PPM) dari Badan Gizi Nasional (BGN) menyelenggarakan pelatihan bagi pelaku usaha lokal dalam rangka mendukung implementasi program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Program ini merupakan inisiatif pemerintah yang bertujuan untuk meningkatkan kualitas gizi masyarakat sekaligus memberdayakan ekonomi lokal melalui penyediaan makanan bergizi yang layak dan mudah dijangkau.
Rima Nurisa Brahmani, perwakilan dari Badan Gizi Nasional, menyampaikan bahwa MBG merupakan bagian dari visi Presiden Prabowo dalam mewujudkan generasi Indonesia yang unggul, cerdas, dan berintegritas menuju tahun emas Indonesia 2045.
“Negara memiliki tanggung jawab besar dalam memastikan tumbuh kembang generasi penerus, khususnya anak-anak, ibu hamil, dan ibu menyusui. Program MBG menjadi salah satu langkah konkret dalam memenuhi kebutuhan gizi kelompok-kelompok tersebut,” ujar Rima saat memberikan keterangan di Bogor.
Baca juga: Disparbud Garut Perkuat Pengamanan Wisata Pantai, Targetkan 3,6 Juta Kunjungan pada 2025
Ia menjelaskan bahwa makanan bergizi adalah makanan yang mengandung zat-zat penting bagi tubuh dalam takaran yang sesuai dan seimbang. Nutrisi yang dimaksud mencakup protein, karbohidrat, lemak, vitamin, dan mineral yang dibutuhkan untuk menjaga kesehatan tubuh secara menyeluruh.
“Setiap tahap dalam pengolahan makanan perlu diperhatikan, mulai dari pemilihan bahan hingga penyajian. Nilai gizi dalam setiap menu harus sesuai dengan kebutuhan kelompok sasaran,” tambahnya.
Dalam kesempatan itu, Rima juga mengajak kelompok tani dan pelaku usaha di wilayah Bogor dan sekitarnya untuk terlibat aktif dalam penyediaan bahan pangan program MBG. Kontribusi lokal dinilai penting guna memastikan keberlangsungan program dan peningkatan kesejahteraan masyarakat.
Terkait pendistribusian makanan, BGN menetapkan aturan bahwa dapur sehat atau Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) harus berada dalam radius 15 hingga 20 menit dari lokasi sekolah yang dilayani. Ketentuan ini diterapkan untuk menjaga kualitas makanan, baik dari sisi kebersihan maupun kandungan gizinya.
Bagi masyarakat atau pelaku usaha yang berminat menjadi mitra program, informasi lebih lanjut dapat diakses melalui laman resmi BGN di mitrabgn.go.id, yang menyediakan panduan dan tahapan pendaftaran kemitraan.
Baca juga: Wabup Cianjur Dorong Penguatan Dialog Tripartit untuk Hubungan Industrial yang Seimbang
Dari sudut pandang akademisi, Hangesti Emi Widyasari dari IPB University menekankan bahwa pemenuhan gizi yang optimal adalah kunci untuk membangun generasi yang sehat dan produktif. Ia juga menyoroti tantangan gizi yang masih dihadapi bangsa, termasuk masalah stunting, gizi buruk, obesitas, dan akses pangan yang belum merata.
“Menu MBG telah dirancang sesuai dengan pedoman gizi seimbang. Komposisi makanan pokok, lauk, sayuran, dan buah telah disesuaikan dengan kebutuhan sekali makan,” jelas Hangesti.
Ia merujuk pada data Angka Kecukupan Gizi (AKG) yang menyebutkan bahwa anak usia 7-9 tahun membutuhkan sekitar 1.650 kilokalori per hari, sedangkan anak 10-12 tahun membutuhkan 1.900 hingga 2.000 kilokalori. Untuk remaja usia 13-18 tahun, kebutuhan kalori harian berkisar antara 2.100 hingga 2.650 kilokalori.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Antara