Senin, 21 JULI 2025 • 21:26 WIB

Cegah Kenakalan Remaja dan Gangguan Psikologis, Gubernur Jabar Gagas Penempatan Psikolog di Sekolah

Author

Cegah Kenakalan Remaja dan Gangguan Psikologis, Gubernur Jabar Gagas Penempatan Psikolog di Sekolah ( Antara Foto )

JAWA BARAT - Gubernur Jawa Barat, Kang Dedi Mulyadi (KDM), berencana menugaskan tenaga psikolog profesional di setiap sekolah menengah pertama (SMP) dan menengah atas (SMA) di wilayahnya. Langkah ini ditempuh sebagai respons terhadap berbagai persoalan psikologis yang tengah dihadapi para pelajar, mulai dari kasus perundungan hingga gangguan mental yang berujung pada tindakan ekstrem seperti bunuh diri.

KDM menyampaikan keprihatinannya terhadap sejumlah insiden yang belakangan mencuat di lingkungan sekolah, termasuk kasus tragis yang terjadi di SMAN 6 Garut, di mana seorang siswa meninggal dunia diduga akibat tekanan psikologis yang berkepanjangan.

“Saya khawatir kejadian serupa tak hanya terjadi di satu sekolah. Karena itu, kami tengah menyiapkan evaluasi secara menyeluruh. Salah satunya dengan menghadirkan psikolog di sekolah-sekolah,” ujarnya di Bandung, Minggu (20/7).

Baca juga: Dinas Kesehatan Cianjur Fokus Penuhi Kebutuhan Dokter Spesialis di Wilayah Selatan

Menurut Dedi, fenomena penurunan moral dan kesehatan mental di kalangan generasi muda bukanlah persoalan sederhana. Ia menilai kondisi ini merupakan dampak dari sejumlah faktor kompleks yang memerlukan penanganan mendalam melalui pendampingan profesional.

“Masalah ini tidak bisa dilihat secara kasat mata. Perlu investigasi dari psikolog agar persoalan yang ada bisa terungkap secara objektif dan tidak berlarut-larut,” kata dia.

Ia juga menyoroti berbagai pemicu yang memengaruhi perkembangan karakter remaja masa kini. Antara lain, derasnya arus informasi digital, minimnya aktivitas fisik, serta pengaruh gaya hidup modern yang kurang mendukung keseimbangan emosional anak.

“Anak-anak sekarang hidup di ruang yang makin sempit, jarang bergerak, kecanduan gawai, mengonsumsi makanan instan, dan tinggal di lingkungan yang ekologinya sudah rusak. Interaksi dengan orang tua pun semakin terbatas, sementara konten-konten negatif di media sosial begitu mudah diakses,” jelasnya.

KDM bahkan menyebut bahwa ancaman terhadap remaja saat ini tak hanya bersumber dari ideologi berbahaya, melainkan juga dari ‘virus informasi’ yang tersebar melalui jejaring digital, dan berpengaruh besar terhadap pola pikir serta perilaku pelajar, termasuk aksi kekerasan, pelecehan seksual, dan tawuran.

Untuk merealisasikan rencana tersebut, Dedi menyatakan telah menyiapkan sedikitnya 200 tenaga psikolog untuk ditugaskan di sekolah-sekolah di seluruh Jawa Barat. Ia juga mengajak para kepala daerah di tingkat kabupaten/kota untuk mendukung langkah ini demi memperkuat layanan bimbingan siswa yang selama ini hanya ditangani guru Bimbingan dan Konseling (BK).

“Guru BK tidak dibekali keahlian sebagai psikolog. Karena itu, kehadiran psikolog di sekolah-sekolah, terutama di tingkat SMP dan SMA, sudah menjadi kebutuhan mendesak,” tegasnya.

Sebagai informasi, inisiatif ini muncul setelah seorang siswa kelas X di salah satu SMA Negeri di Garut ditemukan meninggal dunia di rumahnya pada Senin (14/7). Berdasarkan hasil penyelidikan aparat, tidak ditemukan unsur kekerasan fisik. Dugaan sementara, korban mengalami tekanan psikologis akibat perundungan.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Antara

Author

Yudo Utomo

ZCreators
TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU