Dinkes Cirebon Gencarkan ORI untuk Tekan Kasus Campak 2026 (Antara Foto)
JAWA BARAT - Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Cirebon, Jawa Barat, terus mengintensifkan pelaksanaan Outbreak Response Immunization (ORI) sebagai upaya menekan penyebaran campak yang masih ditemukan hingga awal 2026.
Kepala Dinkes Kota Cirebon, Siti Maria Listiawaty, menyampaikan bahwa penanganan kasus dilakukan melalui serangkaian tahapan, mulai dari surveilans, kajian epidemiologi, hingga koordinasi dengan pemerintah provinsi dan Kementerian Kesehatan.
“Langkah yang kami lakukan meliputi pelaporan kepada pimpinan daerah, survei cepat di masyarakat, hingga pelaksanaan ORI sebagai respons terhadap kejadian luar biasa (KLB) campak di Kota Cirebon,” ujarnya di Cirebon, Rabu.
Ia menjelaskan, setelah status KLB campak ditetapkan pada 20 Februari 2026, pihaknya melakukan evaluasi terhadap capaian ORI yang belum mencapai target. Oleh karena itu, pelaksanaan program tersebut diperpanjang selama satu minggu.
Selanjutnya, Dinkes juga menggelar kegiatan catch up campaign (CUC) guna mengejar target imunisasi yang belum terpenuhi. Upaya tersebut dinyatakan berhasil setelah capaian imunisasi memenuhi sasaran yang ditetapkan.
Baca juga: DPRD Jabar Dukung Penataan Halaman Gedung Sate, Dinilai Kembalikan Identitas Daerah
Berdasarkan data, jumlah suspek campak di Kota Cirebon sepanjang 2025 tercatat sebanyak 238 kasus, dengan 44 kasus di antaranya terkonfirmasi melalui pemeriksaan laboratorium.
Sementara itu, pada 2026 hingga minggu ke-13 atau per 4 April, jumlah suspek mencapai 150 kasus. Dari jumlah tersebut, sembilan kasus telah terkonfirmasi positif secara laboratorium.
Maria menyebutkan, meskipun tren kasus menunjukkan penurunan, status KLB belum dapat dicabut sebelum melewati dua kali masa inkubasi tanpa ditemukannya kasus baru.
Baca juga: HPSN 2026, Pemkab Cirebon Dorong Kolaborasi Atasi Darurat Sampah
“Masa inkubasi campak sekitar 14 hari. Jika selama 28 hari tidak ditemukan kasus, maka status KLB dapat dinyatakan berakhir,” jelasnya.
Dari sisi sebaran wilayah, kasus suspek tertinggi pada 2026 tercatat di Kelurahan Argasunya dengan 30 kasus, disusul Kalijaga sebanyak 28 kasus, serta Majasem dan Pegambiran masing-masing 10 kasus.
Di sisi lain, terdapat wilayah yang tidak mencatatkan kasus campak sepanjang 2026, seperti di wilayah kerja Puskesmas Pekalangan dan Perumnas.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Antara