Selasa, 01 JULI 2025 • 11:12 WIB

Pabrik Baterai EV di Karawang Mulai Beroperasi Tahun Depan!

Author

Pabrik Baterai EV di Karawang Mulai Beroperasi Tahun Depan! 

JABAR.INDOZONE.ID - Indonesia resmi memulai pembangunan pabrik baterai kendaraan listrik (EV) berkapasitas 15 GWh di Karawang, Jawa Barat. Pabrik ini digadang-gadang mampu memenuhi kebutuhan baterai untuk sekitar 250.000 hingga 300.000 unit mobil listrik dan dijadwalkan mulai beroperasi secara komersial pada akhir tahun 2026.

Proyek ini merupakan bagian dari Ekosistem Industri Baterai Kendaraan Listrik Terintegrasi yang dikembangkan oleh konsorsium ANTAM, Indonesia Battery Corporation (IBC), dan CBL (anak usaha CATL, Brunp, dan Lygend). Peletakan batu pertama dilakukan langsung oleh Presiden Prabowo Subianto pada Minggu, 29 Juni 2025, di kawasan Artha Industrial Hills (AIH), Karawang.

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral, Bahlil Lahadalia, menyebutkan bahwa proyek ini akan menjadi tulang punggung industri kendaraan listrik di Indonesia, dengan cakupan dari hulu ke hilir.

Baca juga: Polisi Gagalkan Penyelundupan Narkoba dalam Gulai Ayam di Lapas Karawang

“Groundbreaking ini adalah tonggak penting bagi ketahanan energi nasional,” ujar Bahlil dalam keterangannya, dikutip dari Antara.

Pabrik ini dikelola oleh PT Contemporary Amperex Technology Indonesia Battery (CATIB), perusahaan patungan antara IBC dan CBL—bagian dari raksasa global baterai, CATL. Pembangunan dilakukan di atas lahan seluas 43 hektare, dengan target kapasitas awal sebesar 6,9 GWh pada fase pertama dan meningkat menjadi 15 GWh pada fase kedua.

Tak hanya untuk kendaraan listrik, pabrik ini juga diproyeksikan akan memproduksi Battery Energy Storage System (BESS) untuk menyimpan energi dari sumber terbarukan seperti panel surya. Meski demikian, rincian kapasitas untuk BESS masih belum diumumkan.

Sementara itu, pengembangan proyek serupa juga berlangsung di Halmahera Timur, Maluku Utara, melalui PT Feni Haltim (PT FHT), perusahaan patungan ANTAM dan Hong Kong CBL Limited. Di sana, proyek industri energi baru tengah dibangun, mencakup Tambang nikel dan smelter pirometalurgi (88.000 ton refined nickel alloy/tahun, target 2027), Smelter hidrometalurgi (55.000 ton MHP/tahun, target 2028), Pabrik bahan katoda Nickel Cobalt Manganese (30.000 ton/tahun, target 2028), Fasilitas daur ulang baterai (20.000 ton logam sulfat dan lithium karbonat/tahun, target 2031).

Langkah besar ini menegaskan komitmen Indonesia menjadi pemain kunci dalam rantai pasok baterai kendaraan listrik global, sekaligus mendorong hilirisasi industri mineral dalam negeri.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Antara

Author

Yudo Utomo

ZCreators
TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU