Kategori Berita

KANAL

REGIONAL

Minggu, 25 JANUARI 2026 • 19:17 WIB

Peran Generasi Muda Diperkuat dalam Upaya Penanggulangan HIV dan AIDS di Kota Bandung

Peran Generasi Muda Diperkuat dalam Upaya Penanggulangan HIV dan AIDS di Kota BandungPeran Generasi Muda Diperkuat dalam Upaya Penanggulangan HIV dan AIDS di Kota Bandung

JAWA BARAT -  Komitmen memperkuat penanggulangan HIV dan AIDS di Kota Bandung terus diperluas dengan melibatkan peran aktif generasi muda. Upaya ini salah satunya diwujudkan melalui kegiatan bertajuk Tebar Cinta Akhiri AIDS: Peran dan Tantangan Generasi Muda dalam Penanggulangan HIV dan AIDS di Kota Bandung yang berlangsung di Kampus UIN Sunan Gunung Djati Bandung, Kamis (22/12/2026).

Kegiatan ini digagas oleh Baznas Kota Bandung bekerja sama dengan Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Kota Bandung serta Pemerintah Kota Bandung. Mahasiswa menjadi sasaran utama kegiatan yang mengedepankan sosialisasi dan edukasi seputar kesehatan, khususnya terkait HIV dan AIDS.

Ketua Baznas Kota Bandung, Akhmad Roziqin, menegaskan bahwa isu kesehatan masyarakat, termasuk HIV dan AIDS, merupakan bagian dari mandat lembaganya. Ia menjelaskan, Baznas memiliki tanggung jawab dalam pemenuhan lima kebutuhan dasar masyarakat, yakni kesehatan, agama, sosial kemanusiaan, ekonomi, dan pendidikan.

“Persoalan kesehatan warga Kota Bandung adalah perhatian utama kami. Dana yang digunakan berasal dari masyarakat dan dikembalikan untuk kepentingan masyarakat Kota Bandung itu sendiri,” ujar Roziqin.

Baca juga: Wali Kota Bandung Dorong Literasi Finansial Demi Ketahanan Ekonomi Warga

Ia menambahkan, program Tebar Cinta Akhiri AIDS telah dijalankan bersama KPA Kota Bandung selama lebih dari satu tahun. Program tersebut akan terus dilanjutkan mengingat persoalan HIV, AIDS, tuberkulosis, dan malaria masih menjadi tantangan nyata di tengah masyarakat.

Dalam sektor kesehatan, Baznas menerapkan empat pendekatan utama, yaitu preventif, kuratif, rehabilitatif, dan promotif. Kegiatan di lingkungan kampus UIN SGD Bandung ini, menurutnya, lebih menitikberatkan pada pendekatan promotif melalui peningkatan kesadaran generasi muda.

“Mahasiswa diharapkan tidak hanya memahami, tetapi juga menumbuhkan empati, serta menjauhi sikap stigma dan diskriminasi terhadap orang dengan HIV dan AIDS. Pencegahan harus sejalan dengan nilai saling menghormati,” katanya.

Sementara itu, Pelaksana Tugas Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan Kota Bandung, Dadan Mulyana Kosasih, yang mewakili Kepala Dinas Kesehatan, menyampaikan bahwa penanggulangan HIV dan AIDS memerlukan kolaborasi lintas sektor, tidak hanya mengandalkan pendekatan medis.

Baca juga: Memahami Takdir dalam Islam: Makna, Jenis, dan Hikmahnya

Ia mengungkapkan, kondisi HIV di Kota Bandung saat ini berada dalam fase terkontrol dengan tren pengendalian yang menunjukkan arah positif, meskipun belum sepenuhnya stabil.

Pada 2025, sekitar 80 persen orang dengan HIV di Kota Bandung telah mengetahui statusnya. Dari jumlah tersebut, 63 persen telah menjalani pengobatan, dan 45 persen di antaranya mencapai kondisi viral load tersupresi.

“Target 95-95-95 pada 2030 masih menjadi tantangan. Artinya, 95 persen ODHIV mengetahui statusnya, 95 persen menjalani pengobatan, dan 95 persen dari yang diobati mencapai supresi virus. Hambatan utama antara lain kepatuhan minum obat dan keterbatasan pemeriksaan viral load,” jelasnya.

Di sisi lain, jumlah pemeriksaan HIV di fasilitas kesehatan terus meningkat sebagai indikator bertambahnya kesadaran masyarakat. Hingga November 2025, tercatat lebih dari 100 ribu tes HIV telah dilakukan dengan tingkat positivitas sekitar 1,04 persen. Sebagian besar kasus ditemukan pada kelompok usia produktif, yakni 20 hingga 49 tahun.

Baca juga: Mengenal Masjid Raya Al Jabbar, Ikon Religi dan Kebanggaan Jawa Barat

Melalui kegiatan Tebar Cinta Akhiri AIDS, Dinas Kesehatan Kota Bandung berharap mahasiswa dapat menjadi agen perubahan sekaligus duta informasi yang menyebarkan pemahaman yang tepat mengenai HIV dan AIDS, baik di lingkungan kampus maupun di masyarakat.

“Kolaborasi pentahelix yang melibatkan pemerintah, akademisi, komunitas, dunia usaha, media, dan masyarakat menjadi kunci dalam mewujudkan Kota Bandung yang sehat dan berdaya,” pungkasnya, sebagaimana disiarkan melalui kanal YouTube IKA Universitas Padjadjaran.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Jabarprov.go.id

BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU

Peran Generasi Muda Diperkuat dalam Upaya Penanggulangan HIV dan AIDS di Kota Bandung

Close
Close
Close
Close
Link berhasil disalin!