JAWA BARAT - Kabupaten Bogor memiliki satu kawasan bersejarah yang menyimpan catatan panjang tentang kehidupan manusia masa lampau, yakni Situs Cibalay. Terletak di Desa Tapos I, Kecamatan Tenjolaya, tepat di lereng Gunung Salak, situs ini dikenal sebagai salah satu peninggalan budaya megalitik penting di Jawa Barat yang masih bertahan hingga kini.
Situs yang juga disebut Arca Domas Cibalay tersebut tidak hanya menghadirkan susunan batu besar, melainkan menjadi penanda cara masyarakat prasejarah memaknai alam, menghormati leluhur, serta menjalankan kehidupan spiritual. Keberadaannya menjadi gambaran tentang sistem kepercayaan dan struktur sosial pada masa lampau.
Di dalam kawasan situs, terdapat berbagai elemen batu yang tersusun di sejumlah titik, mulai dari menhir, punden berundak, batu datar, hingga batu bergores. Beberapa lokasi memiliki penamaan khusus seperti Bale Kambang, Pasir Manggis, Endong Kasang, dan Arca Domas. Setiap titik diyakini memiliki peran tersendiri dalam aktivitas ritual dan sosial masyarakat pada zamannya.
Menteri Kebudayaan RI, Fadli Zon, dalam kunjungannya ke Situs Cibalay, menyampaikan bahwa kawasan tersebut tidak hanya perlu dilestarikan, tetapi juga diarahkan untuk dikembangkan secara berkelanjutan.
“Kita tidak ingin situs ini hanya dijaga, tetapi juga dibina dan dikembangkan. Ke depan, kawasan ini berpotensi menjadi objek wisata budaya, wisata sejarah, bahkan wisata religi, yang dapat memberikan manfaat bagi masyarakat sekitar tanpa menghilangkan nilai dan keasliannya,” ujar Fadli Zon.
Keberadaan situs yang berada di kawasan hutan menghadirkan suasana alami sekaligus memberi kesan sakral. Rimbunnya pepohonan besar di sekeliling area semakin memperkuat nuansa tersebut. Warga setempat hingga kini masih memegang teguh nilai-nilai kearifan lokal, termasuk berbagai pantangan dan aturan tidak tertulis saat berada di area tertentu.
Baca juga: Prasasti Tarumanegara di Bogor Direlokasi
Situs Cibalay juga terus menjadi perhatian kalangan peneliti. Sejumlah bagian diyakini belum sepenuhnya terungkap, sehingga masih menyimpan banyak misteri sejarah. Dalam hal ini, masyarakat sekitar turut berperan sebagai penjaga tradisi sekaligus pelindung kawasan.
“Kita akan mendorong penelitian lebih lanjut untuk mengkaji anomali-anomali yang ada, sehingga kita bisa mengetahui jejak peradaban yang cukup panjang di kawasan ini. Perkiraan awal menunjukkan bahwa wilayah situs ini berasal dari sekitar 2.000 hingga 3.000 tahun yang lalu, meskipun masih memerlukan pengujian ilmiah untuk memastikan usianya,” tutup Fadli Zon.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Disparbud Jabar