Panyaweuyan Majalengka, Perpaduan Wisata dan Sentra Bawang Merah (Antara Foto)
JAWA BARAT - Pemerintah Kabupaten Majalengka, Jawa Barat, menilai kawasan Terasering Panyaweuyan di Kecamatan Argapura sebagai contoh sinergi antara sektor pariwisata dan pertanian yang mampu mendukung perekonomian masyarakat secara bersamaan.
Kepala Dinas Ketahanan Pangan, Pertanian, dan Perikanan (DKP3) Majalengka, Gatot Sulaeman, menyampaikan bahwa kawasan yang dikenal sebagai destinasi wisata tersebut juga merupakan sentra produksi bawang merah jenis “karet” dengan luas lahan sekitar 10 hektare.
Menurutnya, aktivitas pariwisata di wilayah tersebut tidak menghambat produktivitas pertanian. Sebaliknya, keduanya dapat berjalan beriringan dan saling mendukung.
Ia menambahkan, hasil produksi bawang merah dari kawasan Panyaweuyan turut berkontribusi terhadap ketersediaan pasokan di Majalengka dan wilayah sekitarnya. Saat ini, harga bawang merah dinilai masih stabil di kisaran Rp22 ribu per kilogram, sehingga petani tetap dapat menjalankan usaha secara berkelanjutan.
Pemerintah daerah, lanjut Gatot, terus mendorong petani untuk menjaga kualitas hasil panen serta mengatur pola tanam agar tidak terjadi panen serentak yang berpotensi menekan harga di pasar.
Baca juga: Jalan Diponegoro Ditutup Sebagian, Ini Skema Rekayasa Lalu Lintas di Bandung
Ia juga mengapresiasi konsistensi para petani di Panyaweuyan yang dinilai mampu mempertahankan produktivitas sekaligus mendukung daya tarik wisata di daerah tersebut. Kawasan ini, menurutnya, telah lama dikenal sebagai lokasi budidaya bawang merah dan bawang daun yang dikelola secara turun-temurun.
Gatot menjelaskan, musim tanam pertama biasanya berlangsung pada November hingga Januari dengan masa panen pada Februari. Sementara musim tanam kedua dilakukan pada Maret hingga Mei dan diperkirakan panen pada Juni, sehingga petani dapat melakukan dua kali masa tanam dalam setahun.
Sementara itu, Camat Argapura, Ridwan Mochamad Ramdhani, menyebut komoditas bawang merah menjadi salah satu penopang ekonomi masyarakat selain sektor pariwisata yang selama ini menjadi daya tarik utama kawasan tersebut.
Dengan luas lahan sekitar 10 hektare, potensi produksi bawang merah di Terasering Panyaweuyan dapat mencapai 80 hingga 120 ton dalam satu kali panen, apabila kondisi tanaman berada dalam keadaan optimal.
Ia menilai, keberadaan sektor pertanian membuat kawasan tersebut tidak hanya bergantung pada kunjungan wisatawan, tetapi juga memiliki kekuatan ekonomi dari hasil pertanian.
Baca juga: Gebyar Pesona Budaya Garut 2026 Meriah, Ribuan Warga Padati Jalan Ahmad Yani
Ridwan menambahkan, sentra bawang merah di Kecamatan Argapura tidak hanya berada di Panyaweuyan, melainkan juga tersebar di sejumlah desa lain seperti Sukasari Kidul, Sagara, Teja, dan Sukasari Kaler.
Pemerintah kecamatan terus berkolaborasi dengan dinas terkait untuk mendukung sektor pertanian, antara lain melalui pendampingan kepada petani, penguatan infrastruktur, serta perluasan akses pemasaran hasil panen.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Antara