JAWA BARAT - Program Makan Bergizi Gratis (MBG) kembali menjadi sorotan setelah muncul dugaan kasus keracunan makanan di sejumlah sekolah dan pesantren di Kabupaten Cianjur. Sejak April hingga September 2025, tercatat sedikitnya 135 pelajar mengalami gangguan kesehatan usai menyantap makanan dari program tersebut.
Kasus ini menyebar di beberapa institusi pendidikan. MAN 1 Cianjur melaporkan 55 siswanya terdampak pada April, sementara di bulan yang sama 23 siswa SMP PGRI 1 Cianjur juga mengalami hal serupa. Pada Agustus, 12 santriwati YPI Assatinem Cidaun ikut terkena dampak. Disusul kasus di MTs Islamiyah Sayang yang melibatkan 9 siswa pada 9 September, serta dua sekolah di Kecamatan Cugenang—SDN Salakawung (19 siswa) dan SMP Budi Luhur (17 siswa)—yang mencatat insiden serupa pada 11 September.
Menanggapi kondisi ini, aktivis mahasiswa Cianjur, Agus Rama Tunggara, menilai kejadian tersebut menunjukkan bahwa pelaksanaan MBG masih jauh dari standar yang seharusnya. Ia menegaskan, selama penyebab pasti keracunan belum terungkap dan aspek keamanannya belum dijamin, program MBG lebih baik dihentikan sementara.
Baca juga: Dukung MBG, Pemkot Bandung Siapkan Lahan untuk Satuan Pelayanan Gizi
Rama juga mendorong adanya evaluasi menyeluruh terhadap sistem penyelenggaraan MBG. Ia meminta agar pihak terkait tidak hanya memberikan dukungan psikologis, tetapi juga bentuk tanggung jawab nyata bagi siswa yang terdampak.
“Jika tuntutan ini tidak ditindaklanjuti dengan serius, kami bersama mahasiswa siap turun ke jalan untuk menggelar aksi protes besar-besaran,” tegasnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Pemkab Cianjur