Kamis, 29 JANUARI 2026 • 15:28 WIB

Psikolog Unpad Ungkap Cara Tepat Mengajarkan Puasa pada Anak

Author

Psikolog Unpad Ungkap Cara Tepat Mengajarkan Puasa pada Anak (Antara Foto)

JAWA BARAT - Memasuki bulan suci Ramadan, banyak orang tua mulai menanti saat anak mereka diperkenalkan pada praktik berpuasa. Namun, proses mengenalkan puasa kepada anak perlu dilakukan secara bertahap dan sesuai dengan perkembangan usia, agar pengalaman tersebut menjadi bermakna, menyenangkan, dan tidak menimbulkan tekanan.

Psikolog klinis anak dan remaja dari Universitas Padjadjaran, Mariska Johana H, M.Psi., menegaskan bahwa puasa sebaiknya dipahami sebagai bagian dari proses tumbuh kembang, bukan semata-mata penerapan aturan.

“Puasa bisa dikenalkan sebagai latihan mengendalikan keinginan, sarana membangun regulasi emosi, sekaligus bentuk ibadah yang memiliki nilai spiritual dan manfaat bagi kesehatan. Ketiganya saling terkait dan perlu dijelaskan secara bertahap sesuai usia anak,” ujar Mariska.

Pemahaman puasa berdasarkan tahap usia

Pada usia prasekolah, sekitar tiga hingga enam tahun, anak masih berpikir secara konkret dan sangat dipengaruhi oleh pengalaman emosional. Dalam tahap ini, puasa lebih tepat diperkenalkan sebagai latihan menunggu dan bersabar, bukan sebagai kewajiban penuh.

Anak diajak memahami bahwa rasa lapar adalah sensasi yang bisa datang dan pergi, serta bahwa tidak semua keinginan harus langsung dipenuhi. Nilai spiritual dapat diperkenalkan dengan bahasa sederhana, misalnya bahwa usaha mencoba berpuasa merupakan perbuatan baik yang dicintai Allah. Fokus utama pada usia ini adalah menciptakan pengalaman berpuasa yang aman, hangat, dan positif.

Memasuki usia sekolah awal, sekitar tujuh hingga sembilan tahun, anak mulai mampu memahami hubungan sebab dan akibat. Pada tahap ini, puasa dapat dipahami sebagai latihan mengendalikan diri sekaligus ibadah yang bernilai pahala.

“Anak dapat diajak melihat bahwa puasa bukan hanya soal menahan lapar, tetapi juga menahan emosi, memperbaiki perilaku, dan memperbanyak kebaikan,” jelas Mariska.

Nilai spiritual kemudian dikaitkan dengan tindakan nyata, seperti bersabar, berbagi, dan membantu orang lain. Anak juga mulai diperkenalkan pada manfaat puasa bagi tubuh, termasuk pengaturan pola makan dan kebiasaan hidup yang lebih sehat.

Sementara itu, pada usia sekolah akhir hingga awal remaja, sekitar sepuluh hingga dua belas tahun ke atas, anak sudah memiliki kemampuan berpikir reflektif. Puasa dapat dipahami sebagai ibadah yang melibatkan niat, kesadaran diri, dan tanggung jawab pribadi.

Pada fase ini, anak diajak melihat puasa sebagai latihan menyeluruh mulai dari menahan lapar, mengelola emosi, menjaga pikiran, hingga memperkuat hubungan dengan Tuhan. Puasa juga dikenalkan sebagai sarana membangun kebiasaan sehat yang mendukung kesejahteraan fisik dan mental.

Pendampingan orang tua dalam proses belajar puasa

Untuk membantu anak memahami puasa secara utuh, Mariska menyarankan sejumlah pendekatan praktis. Orang tua dapat mengajak anak menonton video atau film edukatif tentang Ramadan yang sesuai usia, baik yang menampilkan kisah anak berpuasa, nilai spiritual, maupun manfaat kesehatan secara sederhana. Setelah itu, orang tua dapat berdiskusi dengan anak melalui pertanyaan terbuka mengenai apa yang dipahami dan bagaimana hal tersebut dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Anak juga dapat dilibatkan dalam kegiatan keagamaan yang ramah anak, seperti dongeng Islami, kajian anak di masjid, atau kajian keluarga dengan durasi yang tidak terlalu panjang. Dalam proses ini, orang tua tetap mendampingi dan membantu menjelaskan pesan utama agar tidak terasa membebani.

Selain itu, orang tua dapat membantu mengalihkan perhatian anak dari rasa lapar dengan memperbanyak aktivitas yang bermakna. Salat bersama, melakukan kebaikan, membantu sesama, atau menyisihkan uang untuk sedekah dapat menjadi cara untuk menanamkan bahwa puasa bukan hanya tentang menahan diri, tetapi juga mengisi waktu dengan ibadah dan kebiasaan yang positif.

Reward dalam perspektif perkembangan anak

Penggunaan hadiah atau reward masih kerap dipilih orang tua sebagai bentuk motivasi anak dalam berpuasa. Menurut Mariska, pendekatan ini dapat digunakan sebagai bagian dari strategi perkembangan, dengan catatan dilakukan secara tepat.

Pada usia tertentu, reward berfungsi sebagai penguat eksternal. Namun, seiring bertambahnya usia anak, penguatan perlu diarahkan pada motivasi dari dalam diri, pemahaman nilai spiritual, dan kesadaran pribadi.

Bagi anak prasekolah, hadiah konkret seperti stiker, papan pencapaian, atau aktivitas menyenangkan bersama keluarga masih relevan. Yang terpenting, hadiah diberikan atas usaha dan perilaku positif, seperti mencoba menahan lapar, mau sahur, atau mampu mengalihkan perhatian saat merasa tidak nyaman. Pemberian reward juga perlu disertai penjelasan sederhana mengenai makna puasa.

Pada usia sekolah awal, reward masih dapat digunakan, namun mulai dikurangi dan tidak bersifat transaksional. Apresiasi lebih diarahkan pada perilaku seperti kesabaran, kemauan beribadah, memilih makanan sehat saat berbuka, atau berbagi melalui sedekah.

Memasuki usia sekolah akhir hingga awal remaja, penggunaan hadiah fisik sebaiknya semakin diminimalkan. Penguatan lebih difokuskan pada dialog, refleksi, dan rasa bangga terhadap diri sendiri. Reward, jika masih digunakan, bersifat simbolik dan berbasis pengalaman, bukan materi.

“Anak pada tahap ini sudah lebih mampu merefleksikan pengalaman dan memahami makna ibadah,” ujar Mariska.

Di setiap fase, orang tua dianjurkan menerapkan proses fading, yaitu mengurangi pemberian hadiah secara bertahap agar anak beralih dari motivasi berbasis hadiah menuju motivasi intrinsik. Dengan demikian, anak dapat merasakan kepuasan batin, nilai spiritual, dan manfaat kesehatan dari puasa itu sendiri.

Baca juga: Memahami Takdir dalam Islam: Makna, Jenis, dan Hikmahnya

“Dengan pendekatan ini, reward tidak merusak makna ibadah, melainkan menjadi jembatan awal bagi anak untuk belajar, bertumbuh, dan memaknai puasa sesuai tahap perkembangannya,” tutup Mariska.

Dengan pendampingan yang tepat, Ramadan dapat menjadi pengalaman yang aman, hangat, dan edukatif bagi anak. Mereka tidak hanya belajar menahan lapar, tetapi juga memahami nilai, ibadah, serta kebiasaan sehat yang menumbuhkan keseimbangan tubuh dan jiwa.
 

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Antara

Author

Yudo Utomo

ZCreators
TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU