JAWA BARAT - Pemerintah Kota Bandung menilai persoalan ketenagakerjaan masih menjadi tantangan yang perlu mendapat perhatian serius. Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) di Kota Bandung saat ini tercatat sebesar 7,24 persen, di tengah tingginya angka pemutusan hubungan kerja (PHK) serta meningkatnya jumlah pencari kerja yang datang dari luar daerah.
Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan, mengatakan kondisi tersebut memerlukan solusi yang disusun secara menyeluruh dengan melibatkan berbagai pihak. Karena itu, pemerintah menggelar Forum Rembuk Kota yang mempertemukan unsur pemerintah, dunia usaha, akademisi, hingga masyarakat untuk merumuskan langkah konkret dalam menekan angka pengangguran dan mengantisipasi dampak PHK.
"Tantangan ketenagakerjaan di Kota Bandung adalah tingkat pengangguran terbuka kita masih di atas 7 persen. Di saat yang sama, kita juga menghadapi kenyataan bahwa tingkat PHK cukup tinggi sementara banyak orang dari luar Kota Bandung datang untuk mencari pekerjaan. Karena itu kami ingin seluruh stakeholder memberikan masukan agar solusi yang dihasilkan benar-benar komprehensif," ujar Farhan dalam Forum Rembuk Kota di Hotel Aryaduta Bandung, Rabu (15/7/2026).
Farhan menilai upaya mengurangi angka PHK tidak cukup hanya mengandalkan kebijakan atau regulasi. Menurutnya, penciptaan iklim usaha yang sehat menjadi faktor utama agar pelaku usaha mampu bertahan sekaligus membuka lebih banyak lapangan kerja.
Ia juga menyebut sektor pendidikan masih menjadi salah satu peluang investasi terbesar yang dapat mendukung pertumbuhan ekonomi sekaligus memperluas kesempatan kerja di Kota Bandung.
Sementara itu, Kepala Dinas Ketenagakerjaan (Disnaker) Kota Bandung, Yayan Ahmad Brilyana, menjelaskan pihaknya telah menyiapkan sejumlah program untuk menghadapi potensi peningkatan PHK yang dipengaruhi dinamika ekonomi global.
Salah satu strategi utama yang dijalankan adalah memperkuat pelatihan berbasis kompetensi yang disesuaikan dengan kebutuhan dunia industri. Pelatihan dasar akan ditangani oleh perangkat daerah terkait, sedangkan Disnaker memfokuskan diri pada pelatihan lanjutan yang menghasilkan tenaga kerja bersertifikat.
"Pelatihannya harus presisi sesuai kebutuhan industri. Jangan sampai pelatihannya ke mana, kebutuhannya ke mana. Karena itu Disnaker sekarang fokus pada pelatihan berbasis kompetensi yang dilengkapi sertifikasi BNSP agar peserta memiliki daya saing saat masuk ke dunia kerja," kata Yayan.
Selain meningkatkan kualitas pelatihan, Disnaker juga memperluas program padat karya sebagai salah satu upaya mengurangi dampak PHK sekaligus mendukung penataan lingkungan perkotaan.
Program magang bersubsidi juga terus diperkuat melalui kerja sama dengan sektor perhotelan, restoran, dan kafe. Peserta magang memperoleh dukungan berupa uang transportasi, konsumsi, serta pengalaman kerja selama dua hingga tiga bulan.
Baca juga: Sekda Bandung Apresiasi Aparat Kewilayahan atas Penanganan Sampah dan Sukses Agenda Asia Afrika
Menurut Yayan, program tersebut memberikan manfaat bagi kedua belah pihak. Dunia usaha memperoleh tambahan tenaga kerja, sementara peserta memiliki kesempatan memperoleh pengalaman kerja yang berpotensi membuka peluang untuk direkrut sebagai karyawan tetap atau bahkan merintis usaha sendiri.
Di sisi lain, Pemkot Bandung juga terus mendorong penempatan tenaga kerja ke luar negeri, khususnya ke Jepang yang masih membutuhkan tenaga kerja di sektor caregiver, perhotelan, dan manufaktur.
Untuk mendukung program tersebut, Disnaker bekerja sama dengan sejumlah Lembaga Pelatihan Kerja (LPK) dalam mempersiapkan calon pekerja. Pemerintah juga memberikan subsidi pelatihan bahasa Jepang sebesar Rp10 juta hingga Rp15 juta bagi peserta yang telah dinyatakan siap diberangkatkan.
"Sekarang polanya berubah. Warga mendaftar ke LPK, setelah siap berangkat kami memberikan subsidi pelatihannya. Dalam waktu dekat sekitar 50 orang akan diberangkatkan ke Jepang. Harapannya mereka pulang tidak hanya membawa penghasilan, tetapi juga membawa keterampilan, kemampuan bahasa, dan budaya kerja yang disiplin," ujarnya.
Selain itu, Disnaker Kota Bandung tengah menjalin kerja sama dengan Universitas Teknologi Bandung (UTB) untuk membuka peluang bagi mahasiswa agar dapat bekerja di Jepang sembari melanjutkan pendidikan.
"Kita sedang menjalin kerja sama dengan UTB dan memberikan kesempatan untuk mahasiswanya bisa bekerja di Jepang dan melanjutkan pendidikannya," tutur Yayan.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Pemkot Bandung