Kategori Berita

KANAL

REGIONAL

Senin, 27 OKTOBER 2025 • 10:27 WIB

Farhan: Santri Harus Cerdas Digital, Lawan Propaganda dan Hoaks yang Memecah Bangsa

Farhan: Santri Harus Cerdas Digital, Lawan Propaganda dan Hoaks yang Memecah BangsaFarhan: Santri Harus Cerdas Digital, Lawan Propaganda dan Hoaks yang Memecah Bangsa

JAWA BARAT - Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan, menyoroti bentuk penjajahan baru yang muncul di era digital. Ia mengingatkan masyarakat agar berhati-hati terhadap penyalahgunaan kebebasan berekspresi serta maraknya informasi menyesatkan yang berpotensi memecah persatuan bangsa.

Pernyataan tersebut disampaikan Farhan dalam peringatan Hari Santri 2025 di halaman Kantor PCNU Kota Bandung, Jalan Sancang No. 8, pada Minggu, 26 Oktober 2025.

“Kebebasan berpendapat adalah anugerah, namun bisa menjadi ancaman ketika digunakan untuk menyebarkan kebencian dan pembenaran terhadap kekerasan. Kini banyak propaganda digital yang mencoba menormalisasi kekerasan terhadap Palestina. Maka hadapilah semua itu dengan kecerdasan digital,” ujarnya.

Baca juga: Pemkab Karawang Gelar Apel Hari Santri 2025, Anggarkan Rp15 Miliar untuk Pesantren dan Santri

Farhan menegaskan, santri masa kini memiliki tanggung jawab besar dalam menjaga ekosistem informasi di dunia maya. Mereka diharapkan mampu menjadi pelopor literasi digital dan penangkal hoaks yang dapat merusak tatanan sosial.

Dengan mengusung tema “Santri Bersatu, Bela Pesantren, Bela Palestina”, peringatan Hari Santri tahun ini, kata Farhan, menjadi momentum untuk mengenang perjuangan para ulama dan santri dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia.

“Hari Santri bukan sekadar seremoni. Ini adalah bentuk penghormatan atas keberanian para ulama yang pada 1945 menyerukan resolusi jihad demi mempertahankan kemerdekaan bangsa,” ucapnya.

Farhan: Santri Harus Cerdas Digital, Lawan Propaganda dan Hoaks yang Memecah BangsaFarhan: Santri Harus Cerdas Digital, Lawan Propaganda dan Hoaks yang Memecah Bangsa

Farhan juga mengaitkan semangat perjuangan santri tahun 1945 dengan nilai-nilai yang terkandung dalam Konferensi Asia-Afrika (KAA) 1955 di Bandung. Ia menyebut, pertemuan bersejarah tersebut melahirkan Dasasila Bandung—sebuah komitmen untuk menegakkan kemerdekaan seluruh bangsa di Asia dan Afrika dari penjajahan.

“Namun, masih ada satu janji kemerdekaan yang belum tuntas: Palestina,” tegasnya.

Menurutnya, perjuangan kemerdekaan Palestina bukan hanya isu politik atau perebutan wilayah, melainkan persoalan moral dan kemanusiaan yang berakar pada sejarah kolonialisme berbasis agama.

“Kalau ada yang mengatakan perang di Palestina bukan soal agama, itu berarti ia tak memahami sejarah. Israel merebut tanah Palestina dengan landasan keagamaan. Karena itu, kita tak boleh diam. Kita harus bersuara,” serunya, disambut lantunan takbir dan pekik “Free Palestine!” dari para santri.

Di hadapan ribuan santri, kiai, dan ustaz, Farhan juga menyampaikan apresiasi terhadap peran pesantren di Kota Bandung yang telah berkontribusi besar dalam membentuk generasi berkarakter dan berakhlak.

Baca juga: Ribuan Santri Ikuti Upacara Hari Santri 2025 di Stadion Korpri Sukabumi

“Pesantren bukan hanya mencetak santri unggul, tetapi juga melahirkan pendidik dan tokoh masyarakat yang membawa nilai-nilai kebaikan dalam kehidupan sehari-hari,” ujarnya.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Pemkot Bandung

BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU

Farhan: Santri Harus Cerdas Digital, Lawan Propaganda dan Hoaks yang Memecah Bangsa

Close
Close
Close
Close
Link berhasil disalin!