Senin, 25 MEI 2026 • 16:57 WIB

Batu Tulis Huludayeuh Jadi Saksi Sejarah Kerajaan Sunda di Kabupaten Cirebon

Author

Batu Tulis Huludayeuh Jadi Saksi Sejarah Kerajaan Sunda di Kabupaten Cirebon

JAWA BARAT - Di tengah hamparan persawahan Desa Cikalahang, Kecamatan Dukupuntang, Kabupaten Cirebon, berdiri sebuah peninggalan bersejarah yang menyimpan jejak penting Kerajaan Sunda. Situs Batu Tulis Huludayeuh menjadi salah satu warisan budaya yang hingga kini belum banyak dikenal luas masyarakat.

Berada di kawasan dengan panorama perbukitan yang asri, situs tersebut menyimpan sebuah prasasti batu berukuran sekitar 74 sentimeter dengan lebar 36 sentimeter. Pada permukaan batu itu terukir aksara kuno yang diyakini berasal dari masa kerajaan Sunda.

Batu Tulis Huludayeuh disebut-sebut sebagai satu dari dua prasasti batu tulis peninggalan Kerajaan Sunda yang ditemukan di wilayah Jawa Barat. Hal tersebut dibenarkan oleh juru kunci situs, Edi, yang telah lama menjaga kawasan bersejarah tersebut.

Edi menuturkan, batu prasasti itu pertama kali ditemukan warga sekitar tahun 1930. Pada masa itu, lokasi penemuan masih berupa kawasan hutan dan belum berubah menjadi area persawahan seperti sekarang.

“Dulu tempat ini masih hutan. Katanya ada pohon beringin tumbang, kemudian batu ini ditemukan di bawahnya,” ujar Edi saat ditemui tim Bidang Informasi dan Komunikasi Publik (IKP) Diskominfo Kabupaten Cirebon di area situs.

Baca juga: 13 Cabang Olahraga Dipertandingkan di POPDA Kabupaten Bekasi 2026

Meski telah ditemukan sejak puluhan tahun silam, penelitian terhadap prasasti tersebut baru dilakukan pada Februari 1991. Setelah melalui kajian, Batu Tulis Huludayeuh kemudian ditetapkan sebagai situs cagar budaya.

Menurut Edi, prasasti tersebut memiliki nilai sejarah yang penting karena berkaitan erat dengan perjalanan Kerajaan Sunda pada masa lampau. Berdasarkan penjelasan para ahli, batu itu dibuat atas perintah seorang raja yang bergelar Sri Maharaja Ratu Haji.

Ia menjelaskan, prasasti tersebut diduga dibuat sebagai penanda atau peringatan atas berbagai pekerjaan yang dilakukan kerajaan demi kepentingan masyarakat pada zamannya.

Selain menjadi peninggalan sejarah, situs Batu Tulis Huludayeuh juga terbuka untuk umum tanpa dipungut biaya. Edi mengaku senang apabila masyarakat, khususnya pelajar dan generasi muda, datang untuk mengenal sejarah daerah secara langsung.

“Kalau ada yang berkunjung saya senang sekali. Pernah juga ada rombongan sekolah datang ke sini,” katanya.

Menurutnya, situs tersebut memiliki potensi besar sebagai destinasi edukasi sejarah dan budaya di Kabupaten Cirebon. Pengunjung tidak hanya dapat melihat langsung peninggalan masa lalu, tetapi juga mempelajari sejarah Huludayeuh yang diyakini berkaitan dengan pusat pemerintahan pada masanya.

Baca juga: Kafe di Ciamis Bertambah, Bupati Harap Jadi Sarana Promosi Kopi Lokal

Berdasarkan cerita para sesepuh, kata “Hulu” diartikan sebagai kepala atau pusat, sedangkan “Dayeuh” berarti kota. Karena itu, Huludayeuh dipercaya pernah menjadi pusat pemerintahan di masa lampau.

Di tengah perkembangan zaman, Edi berharap generasi muda tetap memiliki kepedulian terhadap pelestarian situs budaya dan sejarah daerah.

“Harus mau datang dan belajar sejarah supaya ikut menjaga kelestariannya,” ujarnya.

Sementara itu, penelitian arkeolog Hasan Djafar dalam jurnal Berkala Arkeologi Volume 14 tahun 1994 berjudul Prasasti Huludayeuh menyebut jumlah prasasti peninggalan di Jawa Barat masih jauh lebih sedikit dibandingkan temuan di Jawa Tengah maupun Jawa Timur.

Dalam kajiannya, Hasan Djafar menjelaskan bahwa nama prasasti diambil dari lokasi penemuannya. Ia juga menyebut Prasasti Huludayeuh berkaitan dengan penghormatan terhadap jasa-jasa Sri Baduga Maharaja atau Prabu Siliwangi, yang namanya tercantum dalam isi prasasti.

Penelitian tersebut menyebutkan bahwa prasasti kemungkinan diterbitkan bukan langsung pada masa Sri Baduga Maharaja, melainkan pada masa pemerintahan penerusnya, Raja Surawisesa yang berkuasa sekitar tahun 1521 hingga 1535.

Baca juga: Mahkota Binokasih dan Batutulis Jadi Warisan Penting Peradaban Sunda

Selain itu, kondisi prasasti saat ini disebut sudah tidak utuh. Beberapa bagian batu mengalami kerusakan dan aus sehingga sejumlah huruf maupun kalimat sulit dibaca.

Meski demikian, Prasasti Huludayeuh tetap menjadi salah satu sumber penting dalam penelusuran sejarah Kerajaan Sunda, khususnya di wilayah Kabupaten Cirebon.
 

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Pemkab Cirebon

Author

Yudo Utomo

ZCreators
TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU