Mahkota Binokasih dan Batutulis Jadi Warisan Penting Peradaban Sunda
JAWA BARAT - Prasasti Batutulis di Kota Bogor dinilai bukan sekadar peninggalan sejarah, tetapi juga menjadi bukti kejayaan Kerajaan Sunda pada masa pemerintahan Sri Baduga Maharaja Prabu Siliwangi. Hal itu disampaikan Ahli Epigrafi Titi Surti Nastiti dalam diskusi “Batutulis dalam Sudut Pandang Teknokratis” di Museum Pajajaran Bogor, Kamis, 14 Mei 2026.
Menurutnya, prasasti tersebut dibuat atas perintah Raja Surawisesa sebagai bentuk penghormatan kepada Prabu Siliwangi yang berjasa menata Pakuan Pajajaran sebagai ibu kota Kerajaan Sunda.
Mahkota Binokasih dan Batutulis Jadi Warisan Penting Peradaban Sunda
Meski jejak fisik Kerajaan Sunda kini tak banyak tersisa, Mahkota Binokasih yang disimpan di Keraton Sumedang Larang masih dianggap sebagai simbol kebesaran Sunda masa lampau. Dalam naskah Carita Parahyangan, mahkota itu disebut sebagai lambang kekuasaan raja-raja Sunda sebelum akhirnya diwariskan kepada Prabu Geusan Ulun setelah runtuhnya Pajajaran.
Ahli Arkeometalurgi BRIN Harry Octavianus Sofian menjelaskan, Mahkota Binokasih memiliki kaitan dengan konsep Kosmologi Triangtu yang menggambarkan hubungan manusia dengan Tuhan, sesama, dan alam. Struktur mahkota juga merepresentasikan tiga unsur kepemimpinan Sunda, yakni Rama, Ratu/Prabu, dan Resi.
Baca juga: Mahkota Binokasih Resmi Kembali ke Sumedang Usai Kirab Tatar Sunda
Sementara itu, Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi mendorong agar peninggalan sejarah Sunda dikaji melalui pendekatan akademik, bukan dikaitkan dengan hal-hal klenik. Ia menilai kajian ilmiah penting untuk memperkuat pemahaman masyarakat terhadap sejarah dan peradaban Sunda.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Disparbud Jabar