Selasa, 16 SEPTEMBER 2025 • 06:09 WIB

Tradisi Merlawu di Wanasigra, Wujud Syukur dan Warisan Budaya yang Terjaga

Author

Tradisi Merlawu di Wanasigra, Wujud Syukur dan Warisan Budaya yang Terjaga (Pemkab Ciamis)

JAWA BARAT - Tradisi Merlawu kembali digelar di Situs Gandoang, Desa Wanasigra, Kecamatan Sindangkasih, Kabupaten Ciamis, pada Jumat (12/9/2025). Meski sempat diguyur hujan gerimis dan kondisi jalan sedikit licin, ratusan warga tetap hadir dengan penuh semangat mengikuti prosesi adat tahunan tersebut.

Merlawu merupakan tradisi turun-temurun masyarakat Wanasigra yang dilaksanakan setiap bulan Maulud. Ritual ini menjadi bentuk doa bersama sekaligus penghormatan kepada para leluhur, khususnya Syekh Padamatan, tokoh penyebar Islam yang dimakamkan di Kabuyutan Gandoang.

Rangkaian acara dimulai dengan pembacaan doa dan tawasul di area makam, dilanjutkan dengan makan bersama. Hidangan sederhana yang dibawa dari rumah masing-masing warga menjadi simbol kebersamaan, persaudaraan, serta ungkapan rasa syukur atas rezeki yang diberikan Allah SWT, terutama setelah panen.

Baca juga: Bupati Ciamis Dorong Optimalisasi Perpustakaan Sebagai Pusat Literasi dan Kreativitas

Turut hadir dalam kesempatan ini, Bupati Ciamis H. Herdiat Sunarya bersama jajaran pemerintah daerah, perwakilan Disbudpora, Dinas Pariwisata, serta unsur Muspika Kecamatan Sindangkasih. Kehadiran rombongan disambut hangat masyarakat Wanasigra yang konsisten menjaga kelestarian Merlawu dari generasi ke generasi.

Dalam sambutannya, Bupati Herdiat mengapresiasi masyarakat Wanasigra yang senantiasa menjaga warisan budaya leluhur. Ia menegaskan, tradisi Merlawu telah mendapatkan pengakuan resmi dari pemerintah pusat.

“Merlawu kini telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTB). Ini kebanggaan bukan hanya bagi warga Wanasigra, tetapi juga masyarakat Kabupaten Ciamis. Tradisi ini sudah tercatat di Direktorat Jenderal Kebudayaan di Jakarta,” ungkapnya.

Tradisi Merlawu di Wanasigra, Wujud Syukur dan Warisan Budaya yang Terjaga (Pemkab Ciamis)

Bupati juga menyampaikan terima kasih kepada Kepala Desa Wanasigra dan perangkat desa yang terus berupaya menjaga kelestarian budaya sekaligus merawat lingkungan sekitar.

“Alhamdulillah, hampir setiap tahun saya bisa hadir di sini bersama masyarakat. Mari kita jaga bersama tradisi ini sekaligus kita rawat lingkungan. Syukur alhamdulillah, kota kecil kita baru saja mendapat penghargaan sebagai kota terbersih di ASEAN. Tentu capaian ini adalah hasil kerja sama seluruh masyarakat Tatar Galuh Ciamis,” ujarnya.

Lebih lanjut, Bupati menyoroti budaya kerja bakti yang rutin dilakukan warga Wanasigra setiap sore di bawah arahan kepala desa. “Saya sangat mengapresiasi semangat gotong royong yang masih dijaga dengan baik. Hatur nuhun ka sadayana,” tambahnya.

Selain bernilai budaya, tradisi Merlawu juga memiliki makna religius. Pelaksanaannya di bulan Maulud menjadi sarana untuk mengenang kelahiran Nabi Muhammad SAW.

Baca juga: Bupati Ciamis Dorong Optimalisasi Perpustakaan Sebagai Pusat Literasi dan Kreativitas

“Tradisi ini bukan sekadar ritual adat, tapi juga kesempatan untuk meneladani Rasulullah SAW. Semoga melalui kegiatan ini, keimanan dan ketakwaan kita semakin meningkat,” tutur Bupati menutup sambutannya.

Dengan status sebagai Warisan Budaya Tak Benda, Merlawu kini tidak hanya menjadi milik masyarakat Wanasigra, tetapi juga menjadi identitas budaya Jawa Barat bahkan Indonesia. Pemerintah Kabupaten Ciamis berharap, tradisi ini dapat terus dilestarikan dan diwariskan kepada generasi muda agar tetap hidup di tengah arus perubahan zaman.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Pemkab Ciamis

Author

Yudo Utomo

ZCreators
TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU