Kategori Berita

KANAL

REGIONAL

Kamis, 20 NOVEMBER 2025 • 16:32 WIB

Morning Surge: Ancaman Diam-Diam bagi Penderita Hipertensi di Indonesia

Morning Surge: Ancaman Diam-Diam bagi Penderita Hipertensi di IndonesiaMorning Surge: Ancaman Diam-Diam bagi Penderita Hipertensi di Indonesia (Antara Foto)

JAWA BARAT - Dokter Spesialis Penyakit Dalam Konsultan Ginjal dan Hipertensi, dr. Tunggul Diapari Situmorang, Sp.PD-KGH, mengimbau masyarakat untuk lebih mewaspadai lonjakan tekanan darah pada pagi hari atau morning surge. Kondisi ini disebut menjadi salah satu faktor yang kerap memicu stroke dan serangan jantung, terutama pada penderita hipertensi.

Menurut Tunggul, rendahnya kewaspadaan masyarakat terhadap hipertensi membuat banyak orang tidak menyadari dirinya mengidap tekanan darah tinggi hingga muncul komplikasi.

“Hipertensi disebut silent killer bukan tanpa alasan. Kondisi ini sering kali tidak menimbulkan keluhan, tetapi perlahan dapat merusak jantung, ginjal, otak, hingga pembuluh darah,” ujarnya dalam diskusi The Science Behind: The Importance of 24-hour Hypertension Management di Jakarta, Kamis.

Ia menjelaskan bahwa tekanan darah manusia mengikuti irama sirkadian tubuh, di mana waktu paling rentan berada pada pukul 06.00 hingga 10.00 pagi. Pada fase ini, tekanan darah cenderung meningkat setelah bangun tidur sehingga dapat memicu kejadian fatal, khususnya pada pasien dengan hipertensi derajat 2 dan 3.

Baca juga: Dampak Rahim Lepas pada Kesehatan Perempuan, Dokter Spesialis Beri Penjelasan

Tunggul menegaskan pentingnya pemeriksaan tekanan darah secara rutin, baik di pagi maupun malam hari, disertai pencatatan hasil dan konsumsi obat antihipertensi sesuai kebutuhan.

Dokter lulusan Universitas Indonesia itu mengungkapkan bahwa proporsi pasien hipertensi yang belum terkontrol di Indonesia masih sangat tinggi, mencapai 81,1 persen.
“Sebagian besar baru mengetahui dirinya hipertensi setelah mengalami komplikasi serius seperti stroke atau serangan jantung,” tuturnya.

WHO mencatat terdapat 1,4 miliar penyandang hipertensi di dunia, namun hanya 23 persen yang tekanannya berada dalam kondisi terkontrol. Di Indonesia, prevalensi hipertensi pada penduduk usia 18 tahun ke atas mencapai 30,8 persen, tetapi hanya 18,9 persen yang berhasil mengendalikan tekanan darahnya.

Tunggul menambahkan, keberhasilan pengendalian hipertensi sangat dipengaruhi kedisiplinan pasien. Dokter hanya dapat menyesuaikan terapi berdasarkan data yang dilaporkan pasien dari pemeriksaan mandiri.

Baca juga: Mahasiswa Seni Rupa UPI Dilatih Publikasi dan Penanganan Karya Seni Secara Profesional

Ia juga mengajak masyarakat membangun pola hidup sehat dengan menjaga berat badan ideal, mengurangi konsumsi garam, berolahraga 30 menit sebanyak 3–5 kali per minggu, serta menghentikan kebiasaan merokok.

“Penurunan tekanan darah sekecil apa pun tetap berarti. Penurunan 10 mmHg pada tekanan sistolik dapat menurunkan risiko stroke, kejadian kardiovaskular, hingga gagal jantung,” ujarnya.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Antara

BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU

Morning Surge: Ancaman Diam-Diam bagi Penderita Hipertensi di Indonesia

Close
Close
Close
Close
Link berhasil disalin!