JAWA BARAT - Dokter spesialis penyakit dalam konsultan endokrin, metabolik, dan diabetes Universitas Brawijaya, dr. Rulli Rosandi Sp.PD-KEMD, menegaskan bahwa obesitas yang tidak ditangani dengan tepat berisiko membuka jalan bagi berbagai penyakit metabolik yang berdampak pada kualitas hidup.
“Obesitas ini adalah pintu masuk ke penyakit-penyakit metabolik. Awalnya dari obesitas, kemudian berkembang ke kondisi lain,” ujar Rulli dalam diskusi kesehatan mengenai obesitas di Jakarta.
Ia menjelaskan, bila diabetes kerap dijuluki sebagai mother of disease atau “induk penyakit”, maka obesitas dapat dianggap sebagai bahan bakunya. Kondisi tersebut sering kali menjadi pemicu gangguan metabolik yang berdampak pada berbagai organ tubuh.
Mayoritas penderita obesitas, menurutnya, mengalami gangguan metabolik berupa diabetes, yang kemudian meningkatkan risiko penyakit jantung dan gangguan ginjal. Obesitas juga memicu dislipidemia atau penumpukan kolesterol, hipertensi, serta sindrom metabolik. Oleh karena itu, pasien dengan obesitas dianjurkan untuk rutin memantau kadar gula darah, tekanan darah, dan profil kolesterol.
Baca juga: West Java Paragliding Championship 2025 Resmi Ditutup, Sumedang Kian Mendunia
Selain gangguan metabolik, obesitas dapat menimbulkan masalah pernapasan seperti apnea tidur obstruktif, dengan gejala mengorok atau sesak napas ketika berbaring. Beban berat badan berlebih juga sering menyebabkan nyeri sendi serta rasa lelah berkepanjangan.
Pada perempuan, obesitas berpotensi memicu sindrom ovarium polikistik (PCOS), sementara pada laki-laki dapat menurunkan kadar hormon testosteron. Di sisi lain, aspek psikologis pun tidak luput terdampak, mengingat sebagian penderita obesitas kerap mengalami tekanan mental akibat stigma sosial. Obat-obatan antidepresi yang digunakan sebagian pasien juga dapat memperparah kenaikan berat badan.
Rulli menekankan pentingnya penanganan sesuai kondisi individu. Penilaian dilakukan melalui indeks massa tubuh (IMT/BMI) serta keberadaan komplikasi. Pasien dengan IMT rendah (18-22,9) umumnya dianjurkan melakukan modifikasi gaya hidup melalui olahraga dan pola makan sehat.
Baca juga: Rasi, Pangan Khas Kampung Cireundeu yang Jadi Warisan Budaya Tak Benda
Sementara bagi penderita dengan IMT di atas 25, dokter dapat mempertimbangkan terapi obat hingga tindakan operasi bariatrik. “Jika sudah ada komplikasi seperti diabetes, tentu pendekatannya harus lebih agresif, tidak cukup hanya mengubah pola makan dan olahraga, tapi juga bisa menggunakan farmakoterapi bahkan pembedahan,” jelasnya.
Ia menambahkan, strategi penanganan obesitas tidak bisa digeneralisasi. Penurunan angka obesitas di Indonesia diharapkan dapat menekan jumlah kematian akibat penyakit metabolik sekaligus mengurangi beban kesehatan secara nasional.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Antara