Senin, 12 JANUARI 2026 • 15:33 WIB

Fenomena Swarming dan Sejarah Bandung sebagai Pusat Mobilitas

Author

Fenomena Swarming dan Sejarah Bandung sebagai Pusat Mobilitas

JAWA BARAT - Wali Kota Bandung Muhammad Farhan menilai bahwa salah satu tantangan besar kehidupan manusia masa kini adalah fenomena swarming, yakni kecenderungan masyarakat untuk berkumpul dan bergerak secara kolektif karena adaMuhammad Farhan
 nya daya tarik tertentu.

Pandangan tersebut disampaikan Farhan saat memberikan sambutan dalam Pameran Lukisan Nasional bertajuk Pohon untuk Kehidupan yang digelar di The Huis Gallery, Taman Budaya Jawa Barat, Sabtu, 10 Januari 2026.

Farhan menjelaskan, dorongan terjadinya swarming dapat muncul dari beragam sektor, mulai dari ekonomi, pendidikan, hingga kebudayaan dan aktivitas kreatif. Dalam konteks itu, Bandung sejak awal kelahirannya memang telah dirancang sebagai kota pergerakan.

“Sejak awal, Bandung dibangun sebagai kota persinggahan dan pertemuan. Letaknya berada pada jalur strategis yang menghubungkan berbagai wilayah, sehingga secara alami menjadi pusat mobilitas manusia,” ujar Farhan.

Fenomena Swarming dan Sejarah Bandung sebagai Pusat Mobilitas

Ia menguraikan, sejarah berdirinya Bandung pada 1810 tidak dapat dilepaskan dari keberadaan jalur jalan pos atau postweg yang menghubungkan Anyer hingga Panarukan. Jalur tersebut tidak sepenuhnya mengikuti pesisir utara Pulau Jawa, melainkan berbelok ke selatan melalui Bogor dan Cianjur, melintasi Bandung, sebelum kembali ke utara menuju Sumedang dan Cirebon.

Rute itulah yang kemudian membentuk sumbu utama Kota Bandung, yang kini terbentang dari kawasan Cibeureum, Jalan Sudirman, Asia Afrika, Ahmad Yani, hingga Ujungberung dan Cibiru. Kondisi tersebut menjadikan kawasan Jalan Asia Afrika sebagai titik nol kilometer Kota Bandung.

Farhan juga menyinggung karakter geografis Bandung yang khas, dengan wilayah utara yang didominasi kawasan pegunungan mulai dari Bukit Lagadar hingga Gunung Manglayang, serta wilayah selatan yang berkembang sebagai pusat pemerintahan, perdagangan, dan aktivitas sosial. Sementara itu, jalur rel kereta api dari Padalarang hingga Cicalengka menjadi penanda historis yang membagi kawasan Bandung utara dan selatan. “Bentang alam dan sejarah inilah yang membentuk identitas Bandung. Kota ini tumbuh di persimpangan alam, perjalanan sejarah, dan dinamika pergerakan manusia,” katanya.

Lebih lanjut, Farhan menyebut Bandung sebagai kota swarming tidak hanya sebagai tempat bermukim, tetapi juga sebagai ruang untuk berkarya. Hal tersebut tercermin dari lahirnya perguruan tinggi teknologi pertama di Indonesia di Bandung, yang bersamaan dengan itu turut melahirkan institusi pendidikan seni rupa terkemuka di Tanah Air.

Baca juga: Zaini Shofari: Kedewasaan Bobotoh Jadi Faktor Pendukung Persib di Puncak Klasemen

Di hadapan para seniman dan pengunjung pameran, Farhan menekankan pentingnya menjaga keseimbangan antara kemajuan teknologi dan nilai-nilai kesenian. Ia menilai, teknologi yang berkembang tanpa sentuhan seni berpotensi menghilangkan sisi kemanusiaan, sementara seni yang berjalan tanpa dukungan teknologi berisiko tertinggal oleh perkembangan zaman.

“Teknologi tanpa seni dapat menjadikan manusia kehilangan rasa. Sebaliknya, seni tanpa teknologi bisa membuat kita tertinggal. Bandung menunjukkan bahwa keduanya perlu berjalan berdampingan,” pungkas Farhan.
 

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Pemkot Bandung

Author

Yudo Utomo

ZCreators
TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU