Lagu Daerah Jawa Barat yang Wajib Dikenal Generasi Muda (ilustrasi/canva)
JAWA BARAT - Jawa Barat dikenal sebagai salah satu provinsi di Indonesia yang kaya akan warisan budaya. Salah satu ekspresi budaya yang masih hidup dan terus diwariskan hingga kini adalah lagu daerah Sunda. Tidak sekadar berfungsi sebagai hiburan, lagu-lagu ini merekam pandangan hidup, perasaan, serta nilai-nilai sosial masyarakatnya.
Sebagian besar lagu daerah Jawa Barat dinyanyikan dalam bahasa Sunda dengan ciri khas cengkok di akhir nada. Di balik melodinya yang khas, tersimpan beragam makna mulai dari kisah cinta, kritik sosial, hingga pesan moral. Berikut sejumlah lagu daerah Jawa Barat beserta gambaran maknanya.
1. Bubuy Bulan
Bubuy Bulan merupakan salah satu lagu Sunda yang paling dikenal luas. Lagu ini berkisah tentang kerinduan seseorang terhadap kekasihnya yang berada jauh. Kerinduan itu kian terasa ketika ia melihat sosok lain dengan tatapan mata yang mengingatkannya pada orang yang dirindukan.
Tema utama lagu ini adalah cinta dan penantian, yang disampaikan dengan nuansa lirih dan puitis.
Bubuy bulan-bubuy bulan sangrai bentang
Panon poe-panon poe disasate
Unggal bulan-unggal bulan abdi teang
Unggal poe-unggal poe oge hade
Situ ciburuy laukna hese dipancing
Nyeredet hate ningali ngeplak caina
Tuh, itu saha nu ngalangkung unggal enjing
Nyeredet hate ningali sorot socana
Unggal bulan-unggal bulan abdi teang
Unggal poe-unggal poe oge hade
Situ ciburuy laukna hese dipancing
Nyeredet hate ningali ngeplak caina
Tuh, itu saha nu ngalangkung unggal enjing
Nyeredet hate ningali sorot socana
2. Bajing Luncat
Secara harfiah berarti “tupai melompat”, Bajing Luncat menggambarkan kekecewaan seorang pria terhadap cinta yang tak berujung bahagia. Ia merasa dikhianati karena perempuan yang dicintainya dianggap melupakan janji yang pernah diucapkan.
Baca juga: Pemprov Jabar Berikan Apresiasi atas Inovasi Pemasaran Pariwisata Daerah
Lagu ini mencerminkan perasaan terluka akibat pengkhianatan dan harapan yang tak terpenuhi.
Bajing luncat-bajing luncat ka astana
Abdi lepat narosan teu ti anggalna
Ku teu sangka salira bet luas pisan
Teu hawatos ka nu kersa ngantos ngantos
Api-api teu emut ka na pasini
Pasini pakait ati leuh pakait ati Tadi na mah sugan teh dulang tinande nu dipiceun cenah ge majar katimu
Teu Terang mah tos caket rek direndengkeun
Moal lipur ku sa taun iyeuh nambaan-nana
3. Cing Cangkeling
Lagu ini kerap dinyanyikan dalam permainan anak-anak seperti ucing-ucingan. Namun di balik kesan riangnya, Cing Cangkeling mengandung pesan filosofis. Lagu ini mengingatkan manusia agar selalu “eling” atau sadar, karena hati manusia mudah berubah seperti ombak di lautan.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: IDN Times