Batik Ciwaringin: Identitas Budaya Cirebon yang Terjaga Lewat Alam dan Tradisi
JAWA BARAT - Cirebon sejak lama dikenal sebagai salah satu daerah dengan tradisi membatik yang kuat. Selain Batik Megamendung yang sudah lebih dahulu populer, daerah ini juga memiliki warisan budaya lain yang tak kalah berharga, yakni Batik Ciwaringin.
Berdasarkan catatan sejarah, tradisi membatik di Desa Ciwaringin mulai berkembang pada awal abad ke-20. Keahlian ini dibawa oleh sejumlah perajin batik asal Trusmi yang kemudian menetap di wilayah tersebut. Dalam perkembangannya, masyarakat Ciwaringin menciptakan corak batik tersendiri dengan karakter warna dan makna yang berbeda dari batik Trusmi.
Jika Batik Trusmi identik dengan warna cerah dan motif yang tegas seperti Megamendung, maka Batik Ciwaringin hadir dengan nuansa warna yang lebih lembut dan alami. Pengaruh kehidupan religius masyarakat yang dekat dengan lingkungan pesantren, serta keseharian mereka yang menyatu dengan alam, melahirkan karya batik yang menenangkan dan sarat filosofi.
Baca juga: Jawa Barat Catat Rekor Baru, 42 Warisan Budaya Ditetapkan Sebagai WBTb Indonesia 2025
Ciri khas lain Batik Ciwaringin terletak pada proses pewarnaannya. Para perajin masih setia menggunakan bahan pewarna alami yang diperoleh dari tumbuhan sekitar seperti daun jati, daun mangga, kulit mahoni, kulit jengkol, kulit manggis, dan kulit rambutan. Pewarna alami tersebut tak hanya memberikan warna khas yang lembut, tetapi juga ramah terhadap lingkungan.
Batik Ciwaringin: Identitas Budaya Cirebon yang Terjaga Lewat Alam dan Tradisi (Antara foto)
“Hampir semua tanaman memiliki warna, tapi kami lebih sering memakai bahan dari pohon mahoni, kulit jengkol, dan kulit rambutan. Pewarna alami jauh lebih aman dan tetap menjaga ciri khas batik kami,” ujar Farhan Jazuli, salah satu perajin Batik Ciwaringin, dikutip dari Detik.com.
Proses pembuatan batik ini dilakukan secara manual, baik dengan teknik tulis maupun cap. Setiap lembar kain melalui tahapan panjang mulai dari menggambar pola menggunakan malam (lilin batik), pencelupan berulang ke larutan pewarna alami, hingga proses penjemuran dan perebusan untuk menghilangkan malam. Keseluruhan proses bisa memakan waktu dua hingga empat minggu, tergantung tingkat kerumitan motif dan jumlah lapisan warna yang digunakan.
Namun perjalanan Batik Ciwaringin tidak selalu mudah. Pada era 1990-an, kemunculan batik printing dan teknik sablon membuat batik tradisional ini sempat terpinggirkan. Produksi menurun tajam, bahkan hampir berhenti sama sekali.
Baca juga: Jawa Barat Raih Peringkat Pertama Indonesia Muslim Travel Index 2025
Kebangkitan baru terjadi sekitar tahun 2010 ketika pemerintah dan pihak swasta mulai memberikan perhatian khusus. Melalui pelatihan, promosi, dan dukungan pemasaran, Batik Ciwaringin kembali mendapatkan tempat di hati masyarakat. Para perajin pun tetap mempertahankan teknik pewarnaan alami sebagai ciri khas utama.
Kini, Batik Ciwaringin telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTB) Indonesia, menjadi bukti bahwa warisan leluhur dapat terus hidup dan berkembang melalui ketekunan, inovasi, dan dukungan bersama.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Disparbud Jabar