Makna dan Pesan Hadis Innamal A‘malu Binniyat dalam Kehidupan Sehari-hari (muslimterkini.com)
JAWA BARAT - Ungkapan innamal a‘malu binniyat merupakan kalimat yang tidak asing di telinga umat Islam. Frasa ini kerap disampaikan dalam ceramah maupun kajian keagamaan sebagai pengingat akan pentingnya niat dalam setiap aktivitas yang dijalani.
Kalimat tersebut merupakan bagian dari hadis Nabi Muhammad SAW yang menegaskan bahwa niat menjadi landasan utama dalam setiap perbuatan, baik yang berkaitan dengan ibadah maupun aktivitas keseharian. Setiap amal yang dilakukan dengan niat yang baik serta dilaksanakan melalui cara yang baik pula, diyakini akan mendatangkan kebaikan atas izin Allah SWT.
Dalam bahasa Arab, kalimat innamal a‘malu binniyat ditulis sebagai berikut:
إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّةِ
Artinya, “Sesungguhnya setiap perbuatan tergantung pada niatnya.” Ungkapan ini diambil dari hadis Rasulullah SAW yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim.
Makna yang terkandung dalam hadis tersebut menegaskan bahwa setiap aktivitas seharusnya diniatkan semata-mata karena Allah SWT, bukan karena kepentingan lain. Apabila suatu perbuatan dilandasi niat yang tulus untuk meraih rida-Nya, maka perbuatan tersebut diharapkan menghasilkan kebaikan.
Baca juga: Syukron dan Jazakallah Khairan: Makna, Perbedaan, dan Cara Penggunaannya
Latar belakang munculnya hadis ini berkaitan dengan peristiwa hijrah Rasulullah SAW dari Makkah ke Madinah. Dalam peristiwa tersebut, terdapat seseorang yang ikut berhijrah, namun niatnya bukan karena Allah dan Rasul-Nya, melainkan demi kepentingan duniawi, yakni untuk menikahi seorang perempuan.
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), niat diartikan sebagai maksud atau tujuan dari suatu perbuatan. Dalam ajaran Islam, niat merupakan urusan hamba dengan Allah SWT, karena tidak seorang pun mampu mengetahui apa yang tersembunyi di dalam hati seseorang.
Niat juga menjadi penentu diterima atau tidaknya suatu amalan. Nilai sebuah perbuatan tidak hanya diukur dari bentuk lahirnya, melainkan dari tujuan yang melatarbelakanginya. Seseorang dapat memperoleh pahala ataupun dosa bergantung pada niat yang menyertai perbuatannya.
Sebagai contoh, ketika menolong orang lain yang sedang mengalami kesulitan, pertolongan tersebut seharusnya dilandasi ketulusan untuk membantu, bukan didorong oleh keinginan memperoleh pujian atau pengakuan dari orang lain.
Kalimat innamal a‘malu binniyat merupakan bagian dari hadis yang diriwayatkan dari Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu. Adapun redaksi hadis tersebut adalah sebagai berikut:
عَنْ عُمَرَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّةِ وَلِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى، فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ فَهِجْرَتُهُ إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ، وَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ لِدُنْيَا يُصِيبُهَا أَوِ امْرَأَةٍ يَتَزَوَّجُهَا فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيْهِ.
Artinya, “Amal perbuatan itu tergantung pada niatnya, dan setiap orang akan mendapatkan sesuai dengan apa yang ia niatkan. Barang siapa hijrahnya karena Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya. Dan barang siapa hijrahnya karena dunia yang ingin diraihnya atau karena seorang wanita yang ingin dinikahinya, maka hijrahnya sesuai dengan tujuan hijrahnya itu.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Hadis ini menegaskan bahwa Allah SWT Maha Mengetahui setiap niat hamba-Nya dan memperhitungkannya secara adil.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: DetikJabar.com